30 Tahun Kekalahan Inggris di Euro 96: Kenangan yang Tak Terlupakan

Tiga puluh tahun lalu, tepatnya pada 26 Juni 1996, kekalahan Inggris di Euro 96 dari Jerman terjadi di Wembley dalam semifinal yang dramatis. Malam itu, pembawa acara BBC Des Lynam berpesan kepada pemirsa untuk mengingat di mana mereka menonton pertandingan tersebut, karena tiga dekade kemudian pasti akan ada yang bertanya. Kini, Guardian mengumpulkan enam penulis untuk berbagi kenangan pribadi mereka. Perjalanan nostalgia ini penuh emosi, dari kegembiraan hingga kekecewaan yang mendalam.

Enam Kisah Kenangan Euro 96 yang Tak Terlupakan

Kenangan Seorang Suporter di Dalam Stadion

Saya masih menyimpan tiket pertandingan dan tiket kereta bawah tanah merah muda bertuliskan “Wembley Park”. Kami duduk di sisi tribun kanan dekat sudut lapangan, tepat di mana tendangan Gazza melambung pada perpanjangan waktu dan adu penalti. Semua terasa jelas: kegembiraan gol Shearer, ketakutan bahwa gol itu datang terlalu awal, gol penyeimbang Jerman, peluang McManaman yang sering dilupakan, serta gol emas Jerman yang dianulir karena pelanggaran yang hanya dilihat wasit. Bahkan setelah gagalnya penalti Southgate, saya masih berpikir belum berakhir. Namun yang paling membekas adalah heningnya perjalanan pulang ke stasiun tube. Ketika saya berkata, “Setidaknya sekarang tidak ada yang menganggap kita akan menang Piala Dunia,” seorang pria marah di dekat saya merespons seolah saya telah menghina Putri Diana. — PC

Remaja di Prancis yang Tak Paham Sepak Bola

Saat itu saya berusia 16 tahun dan – maafkan – kurang tertarik pada sepak bola. Musik sudah menguasai hidup saya, dengan album Parklife sebagai teman. Namun pertandingan ini harus ditonton, apalagi antara Inggris dan Jerman. Sekolah membawa kami berkemah di Brittany setelah ujian GCSE. Pemilik tempat kami menonton mengaku TV-nya rusak saat perpanjangan waktu; sebenarnya ia mungkin ingin menghindari kerusuhan remaja jika Inggris kalah. Kami mengikuti babak penentuan melalui radio transistor di perkemahan, dengan seorang guru menerjemahkan adu penalti. Saya tidak pernah belajar bahasa Prancis untuk kata “Southgate”. — AB

Drama di Dublin: Usulan Menyerang Kedutaan

Saya bekerja di bar hotel besar di Booterstown, Dublin, sebelum kuliah. Seorang rekan asal Inggris yang mabuk menyarankan menyerang kedutaan Jerman setelah adu penalti. Yang mengkhawatirkan, ia serius. Lebih mengkhawatirkan lagi – setidaknya jika ia tidak tahu – kedutaan itu hanya sepelemparan batu. Suporter Inggris yang dibarengi alkohol bukanlah kombinasi yang menyenangkan. Teman-teman Irlandia kami tentu tidak sedih melihat Inggris tersingkir, tetapi rasa schadenfreude mereka harus menunggu lebih lama dari biasanya. — LM

Perspektif Wartawan Pemula di London Barat

Saya baru mulai bekerja di jurnalisme sepak bola, tapi tak punya akses ke Wembley. Jadi saya menonton di flat di London Barat bersama sepuluh teman. Sebagian dari kami juga menonton semifinal Italia 90 bersama. Ada pengalaman dan ketakutan yang sama. Banyak obrolan selama pertandingan, tetapi keheningan gugup ketika Gareth berjalan maju. Kenapa dia? Bagaimana dengan Ince, Anderton, atau McManaman? Seharusnya salah satu dari mereka yang menendang. Tendangan meleset, desahan kecewa, dan perjalanan pulang yang panjang. Jangan khawatir, kami akan menang adu penalti berikutnya… bukan? — CL

Cinta Lintas Negara: Tidak Bisa Menonton Bersama

Pacar saya saat itu – sekarang istri – Barbara adalah orang Jerman. Jelas saya tidak bisa menonton pertandingan bersamanya. Saya meninggalkannya di rumah mahasiswa kami ditemani calon ibu mertua yang datang untuk wisuda keesokan harinya. Saya berjalan menanjak ke bar kampus untuk menyaksikan hal yang tak terelakkan. Shearer, Kuntz, Gazza, Gareth… tak perlu merinci lagi. Perjalanan pulang terasa lebih panjang, dan saya disambut pelukan penuh simpati dari pasangan yang menekan rasa schadenfreude-nya. Namun sembilan tahun kemudian, tanggal 26 Juni memiliki makna berbeda di rumah kami ketika putri kami lahir. Hari ini ia berusia 21 tahun. Selamat ulang tahun, Isabel. — EG

Kenangan Masa Remaja yang Paling Berharga

Kisah saya tidak terlalu menarik – saya berusia 15 tahun, menonton di rumah setelah belajar untuk ujian GCSE. Namun secara lebih luas, malam itu mewakili akhir dari salah satu masa terbaik hidup saya. Saya besar di Wembley, dan berada di sana pada musim panas 1996 terasa seperti pusat alam semesta sepak bola. Saya juga penggemar berat Inggris, sebelum hubungan saya dengan tim nasional menjadi rumit. Saya pergi ke pertandingan melawan Skotlandia, merayakan gol Gazza dengan liar, dan sangat ingin kami memenangkan turnamen. Tapi gagal karena apa yang terjadi pada 26 Juni. Itu menyakitkan, tapi kini hanya ada rasa sayang untuk malam itu, waktu itu. Tenang saja, Des, saya ingat dengan baik. — SN

Tiga puluh tahun telah berlalu, kekalahan Inggris di Euro 96 masih terpatri dalam ingatan para suporter. Setiap cerita di atas membuktikan betapa sepak bola mampu meninggalkan jejak emosional yang mendalam. Seperti pesan Des Lynam, kita benar-benar ingat di mana dan bagaimana kita menonton malam bersejarah itu.