Pelatih Spanyol Buka Suara soal Strategi Hadapi Messi
Pelatih timnas Spanyol, Luis de la Fuente, menegaskan bahwa ia tidak akan menerapkan strategi man-marking atau penjagaan ketat satu lawan satu terhadap Lionel Messi pada partai final Piala Dunia. Keputusan ini diambil meskipun Messi sedang dalam performa gemilang dengan torehan delapan gol dan empat assist sepanjang turnamen. De la Fuente sendiri punya pengalaman pahit saat menggunakan taktik tersebut melawan Messi dua dekade lalu.
Pernyataan ini disampaikan De la Fuente dalam konferensi pers jelang laga final yang akan digelar di New Jersey. Ia menceritakan kembali pertemuannya dengan Messi saat masih menjadi pemain muda di Barcelona pada tahun 2004. Saat itu De la Fuente melatih tim U-19 Sevilla dan mereka bertemu Barcelona di babak 16 besar Copa del Rey.
Kisah di Balik Pertemuan Pertama dengan Messi
“Saya akan cerita hal lucu tentang Messi,” ujar De la Fuente sambil tersenyum. “Saat saya melatih Sevilla di divisi kehormatan U-19, kami bermain melawan Barcelona di Copa del Rey. Banyak yang sudah membicarakan seorang anak bernama Messi. Maka kami pasang pemain khusus untuk menjaganya.”
Pada menit ke-70 skor masih 0-0. Namun ketika pemain yang menjaga Messi mendapat kartu kuning, De la Fuente menariknya keluar. Akibatnya, dalam waktu 15 menit saja, Messi mencetak empat gol ke gawang Sevilla. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagi De la Fuente.
“Apakah itu berarti kami akan melakukan man-marking lagi? Tidak. Apakah kami akan memberikan perhatian ekstra? Tentu, tapi sama seperti mereka juga harus mewaspadai pemain-pemain kami,” tegasnya.
Pelajaran dari Masa Lalu untuk Final Kali Ini
De la Fuente mengaku belajar banyak dari kejadian 22 tahun lalu. Menurutnya, menjaga Messi secara individu justru bisa menjadi bumerang karena pemain Argentina itu memiliki kemampuan membaca permainan yang luar biasa. Ia lebih memilih pendekatan kolektif di mana seluruh lini tengah dan pertahanan bekerja sama untuk memutus aliran bola ke Messi.
Selain itu, De la Fuente juga mengingatkan bahwa Spanyol memiliki senjata ofensif yang tidak kalah berbahaya. “Mereka juga harus khawatir dengan pemain kami,” katanya merujuk pada Lamine Yamal, Nico Williams, dan Alvaro Morata yang tampil tajam.
Perbandingan Lamine Yamal dengan Messi
Ketika ditanya apakah Lamine Yamal bisa menjadi versi baru Messi untuk Spanyol, De la Fuente menolak perbandingan tersebut. “Lamine harus menjadi Lamine sendiri. Messi tidak akan terulang lagi. Dia adalah talenta luar biasa dan teladan bagi pemain muda dalam hal sikap, perilaku, serta Piala Dunia spektakuler yang ia tunjukkan di usianya sekarang.”
De la Fuente menambahkan bahwa final nanti akan menjadi pertunjukan dua tim super. “Ini akan menjadi pertandingan penuh bakat, kecemerlangan, dan permainan indah.”
Bantahan Terhadap Citra Kotor Argentina
Pelatih berusia 63 tahun itu juga membela Argentina dari tuduhan sering menggunakan taktik kotor. “Saya sangat mengagumi tim yang telah menjadi juara Copa America 2021, Piala Dunia, Copa America 2024, dan Finalissima. Belum ada yang pernah melakukan itu dalam sejarah. Mereka dilatih oleh teman saya Lionel Scaloni. Hormat, hormat, hormat. Kami akan menggunakan senjata sepak bola kami masing-masing.”
De la Fuente menekankan bahwa pertandingan final bukanlah ajang “semua atau tidak sama sekali”. Yang terpenting adalah bisa berada di posisi untuk menang. “Nikmati saja, main sesuai gaya kita, hargai momen ini. Jika Anda bilang kami bisa main final Piala Dunia setiap tahun dan kalah, saya akan tanda tangan untuk itu,” ujarnya.
Kekhawatiran Satu-satunya: Helikopter FIFA
De la Fuente mengaku hanya takut pada satu hal: FIFA memaksanya naik helikopter dari New Jersey ke Manhattan untuk acara pra-final. “Dan saya masih harus kembali lagi,” keluhnya. Ia juga tidak terkesan dengan acara FIFA yang bombastis dan kacau, yang oleh Scaloni disebut “surealis”. Saat De la Fuente berbicara, penonton terus berteriak dan bersorak untuk Messi yang juga berada di panggung.
“Sejak kecil saya diajarkan untuk menghormati semua orang; kita harus belajar dari hal ini,” kata De la Fuente kepada hadirin di tengah keriuhan.
Kesimpulan: Fokus pada Permainan Kolektif
Keputusan Luis de la Fuente untuk tidak menggunakan man-marking terhadap Messi menunjukkan kedewasaan taktik dan kepercayaan pada sistem tim. Dengan mengandalkan pertahanan kolektif dan serangan balik cepat, Spanyol berharap bisa mengatasi ancaman individu terbesar Argentina. Final Piala Dunia ini tidak hanya menjadi ajang pembuktian bagi Messi, tetapi juga ujian bagi filosofi sepak bola Spanyol yang mengutamakan kerja sama tim.
Terlepas dari hasil akhir, De la Fuente ingin anak asuhnya menikmati pertandingan dan tetap rendah hati. “Yang penting adalah kami ada di sini, bermain sepak bola dengan cara kami,” pungkasnya.
