Pada pertengahan Agustus, media olahraga L’Équipe di Prancis meminta maaf kepada pemain bola Belgia Jérémy Doku setelah kritik yang dia terima dari salah satu analis mereka. Doku ditegur karena mengungkapkan niatnya untuk meninggalkan Piala Dunia untuk hadir pada lahirnya anak pertamanya.
Pihak Federasi Bola Belgia menyatakan bahwa Doku berhasil kembali ke London tepat waktu agar dapat berada di samping istrinya, Shireen yang baru saja melahirkan seorang putra bernama Praise pada Senin lalu. “Jeremy menerima kabar tersebut sebelum pertandingan kemarin,” kata dokter timnya, Brahim Hacene. “Segalanya berjalan lancar dan ibu, ayah, serta bayi mereka semua dalam keadaan yang sangat baik. Jeremy akan bergabung kembali dengan tim [Senin malam] di Seattle.”
Doku pernah menegaskan kepada wartawan bahwa Shireen diperkirakan melahirkan pada minggu kedua bulan Juli dan jika Belgia masih berlaga pada saat itu, dia senang bisa pulang untuk melihat proses melahirkan. “Ini tergantung pada kapan hal tersebut terjadi, tetapi ini anak pertama saya jadi pasti saya ingin hadir,” kata Doku, seorang pemain sayap Belgia berusia 24 tahun yang memainkan bola di Manchester City. “Jika Anda bertanya apa yang saya inginkan, jawabannya adalah tidak ada yang mau melewatkan lahirnya anak pertama mereka … Saya tahu federasi mendukung para pemain dan memahami situasinya. Kami akan melihat apa yang bisa kita lakukan.”
Pada hari Jumat, presenter L’Équipe, France Pierron, menyebut Doku sebagai “pemain bola lainnya yang akan mati” jika harus bermain di Piala Dunia. “Kamu sedang merasakan impianmu saat kecil tapi kamu pergi menjauh untuk melihat kelahiran anakmu—moment yang sangat membosankan, maafkan ungkapan ini, dimana ayahnya hampir tidak berguna,” katanya.
Pierron dikecam setelah komentar tersebut menjadi viral. Suara dari dunia bola dan luar negeri mendukung Doku. “Kamu memalukan dirimu sendiri,” tulis Caroline Salame, seorang konten creator yang pernah bermain untuk Kanada pada Piala Dunia Under-17 di New Zealand. “Sebagai seseorang yang pernah mengikuti Piala Dunia dan juga melahirkan, biarkan saya memberi tahu kamu: hal terberat yang pernah kulakukan dalam hidup ini—dan hal yang paling saya banggakan—adalah membawa bayi ke dunia,” ujarnya. “Saya tidak tahu bagaimana saya bisa melakukannya tanpa bantuan suami saya. Lahirnya seorang anak dapat sangat kompleks; apa pun bisa terjadi.”
Commentator lain dari L’Équipe, Brahim Asloum juga mengkritik komentar Pierron. Mantan petinju itu mendeskripsikan kelahiran bayi sebagai momen yang unik dan tak terulang. “Bayi adalah seluruh hidupmu. Piala Dunia berakhir ketika piala dunia berakhir,” ujarnya.
Pierron akhirnya muncul di media sosial untuk meminta maaf. “Ungkapan-ungkapan tersebut hanya milik saya sendiri dan tidak mengekspos posisi kolektif. Saya mengerti bahwa mereka mungkin telah mengagetkan, menghina atau menyakiti beberapa dari Anda, dan saya minta maaf atas hal itu,” tulisnya.
Kantor berita L’Équipe merilis pernyataan pada hari Minggu untuk menjauhi komentar-komentar Pierron yang mengejutkan banyak pengunjung mereka. “L’Équipe menjauh dari komentar-komentar tersebut, yang jauh terpisah dari nilai-nilai kami dan minta maaf kepada pemain bola yang bersangkutan dan secara lebih luas kepada audiens kami,” ucap pernyataannya. Dilaporkan bahwa Pierron akan beristirahat dari siaran hingga akhir musimnya pada 3 Juli.
Jeremy Davies, seorang peneliti di Institute of Fatherhood Inggris mengatakan: “Menurut saya, sangat gila masih ada reaksi besar seperti ini ketika laki-laki bicara tentang keinginan mereka untuk melakukan hal terasas manusiawi, yaitu berada saat bayinya dilahirkan.”
Davies mengapresiasi Doku karena memiliki perspektif yang luas. “Menurut saya, ini seperti kita belum pernah maju dari sejenis gladiator di Colosseum,” katanya. “Tahu, para tokoh laki-laki pahlawan yang harusnya tak memiliki ketulusan atau komitmen terhadap keluarga.” “Kamu bisa menjadi lelaki yang lembut dan penuh kasih sayang sambil keras di lapangan, jika kamu mau,” ujarnya.
KESIMPULAN
Pertentangan antara kewajiban seorang pemain bola untuk berpartisipasi dalam turnamen internasional dan keinginan untuk hadir pada lahirnya anak pertama muncul dengan nyata. Doku telah menetapkan contoh yang segar tentang bagaimana mengatasi situasi tersebut, dan kritik-kritik yang diterimanya merupakan pengingat penting bahwa dunia olahraga masih perlu berubah untuk mendukung pemain dalam situasi pribadi mereka.
