Maddy Cusack Diduga Minta Pembicaraan dengan Pendeta Dirahasiakan dari Klub
Inkuisisi kematian Maddy Cusack kembali mengungkap fakta baru. Dalam sidang pada Rabu (waktu setempat), mantan pendeta Sheffield United, Dr. Delroy Hall, memberikan kesaksian mengejutkan. Ia menyatakan bahwa Cusack berulang kali memintanya untuk tidak memberi tahu klub bahwa mereka pernah berbicara. Permintaan ini menunjukkan betapa pribadinya masalah yang dihadapi oleh pesepakbola wanita berusia 27 tahun tersebut sebelum meninggal pada 20 September 2023.
Dr. Hall menjadi relawan sebagai pendeta di Sheffield United sejak 2017 hingga November 2023, sekitar dua bulan setelah kematian Cusack. Ia menuturkan bahwa pemain biasanya mendatanginya sebagai “jalan terakhir” untuk berdiskusi. Cusack sendiri menghubunginya beberapa kali pada Agustus 2023, termasuk secara spesifik pada tanggal 23 Agustus. “Tolong jangan beri tahu siapa pun bahwa aku bicara denganmu,” kata Hall menirukan permintaan Cusack yang diulang hingga tiga atau empat kali.
Tekanan Ganda: Sepak Bola dan Pemasaran
Selama persidangan, Hall mengaku tidak melihat tanda-tanda bahwa Cusack berisiko menyakiti diri sendiri. Namun, ia mendengar keluhan Cusack mengenai tekanan yang muncul akibat menjalani dua karier sekaligus: sebagai pemain sepak bola dan staf pemasaran klub. Sheffield United saat itu memiliki kontrak ganda dengan Cusack, sehingga ia bekerja di dua departemen. “Latihan dan bekerja berarti dia sibuk tujuh hari seminggu,” ujar Hall.
Hall mengingat bahwa ia pernah mengatakan kepada Cusack bahwa jam kerjanya “tidak berkelanjutan”. Ia menambahkan, “Saya merasa dia melakukan terlalu banyak.” Dalam kesempatan lain, Cusack juga bercerita harus berkendara empat jam untuk menemui kekasihnya yang pindah ke Lewes FC di East Sussex pada musim panas 2023. Hall memberikan saran tentang teknik pernapasan sebagai mekanisme mengatasi stres.
Alasan Mundurnya Sang Pendeta
Dr. Hall juga mengungkapkan bahwa ia mengundurkan diri dari peran relawannya pada November 2023 — setelah memberikan dukungan kepada beberapa rekan setim Cusack pasca kematiannya. Ia beralasan tidak lagi tahu kepada siapa harus melapor di klub.
Transisi Tim Wanita ke Status Penuh Waktu Jadi Sorotan
Dalam sidang yang sama, dua pejabat senior Sheffield United, CEO Stephen Bettis dan Kepala Administrasi Sepak Bola Carl Shieber, turut memberikan keterangan. Mereka ditanya mengapa klub membutuhkan waktu lama untuk memberi tahu pemain wanita bahwa mereka akan beralih ke status penuh waktu setelah musim 2022-23 berakhir. Sebelumnya, sidang mendengar bahwa transisi yang “terburu-buru” itu menyebabkan stres bagi pemain dan staf.
Shieber menjelaskan bahwa penundaan sebagian disebabkan oleh kebutuhan menunggu konfirmasi promosi tim pria ke Premier League, yang baru dipastikan pada 26 April 2026. Setelah itu, dewan harus menyetujui pendanaan. Tanpa dukungan finansial dari tim pria, tim wanita tidak mungkin maju ke status penuh waktu. Shieber juga mengungkapkan bahwa sempat ada wacana untuk menghentikan pendanaan tim wanita sama sekali.
Proses Rekrutmen Manajer Tim Wanita
Shieber juga menceritakan proses perekrutan yang membawa Jonathan Morgan sebagai manajer tim wanita pada Februari 2023. Mantan kepala sepak bola wanita, Zoe Johnson, memberi tahu Shieber bahwa Morgan “sedikit brengsek” di pinggir lapangan pada suatu pertandingan, namun ia merasa Morgan adalah kandidat terkuat. Johnson mendorong Shieber untuk bertemu Morgan dalam obrolan informal, yang kemudian berujung pada wawancara formal. Shieber menilai Morgan “sangat transparan” selama wawancara kerja.
Klub Klaim Tak Tahu Tekanan yang Dialami Maddy
Baik Shieber maupun Bettis mengaku tidak pernah diberi tahu bahwa Cusack kesulitan menjalani kedua pekerjaannya. Bettis membela penanganan klub terhadap transisi tim wanita dan bersikeras bahwa klub telah berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir. Saat advokat keluarga melontarkan pertanyaan keras, koroner bahkan harus campur tangan untuk meredakan ketegangan.
Bettis mengungkapkan bahwa ia berulang kali mendorong dewan untuk menaikkan anggaran tim wanita, tetapi ia merasa kondisi keuangan sepak bola wanita saat ini “tidak berkelanjutan”. “Saat itu (musim 2022-23) kami mungkin kehilangan £750.000 setahun dari sepak bola wanita. Jika menjadi full-time, kerugian akan berlipat ganda. Musim ini (2026-27) kerugian akan melebihi £2 juta. Kenyataan sepak bola wanita saat ini tidak berkelanjutan dalam formatnya,” ujarnya.
Bettis menambahkan bahwa meskipun ada keinginan besar dari WSL untuk terus memajukan produk, pendapatan belum mencukupi. “Beban ada di klub untuk berinvestasi. Tapi kami terus mendorong secara internal untuk mendukung sepak bola wanita. Kami percaya padanya. Dengan pendapatan siaran yang lebih besar, itu bisa menjadi kendaraan yang berkelanjutan.” Ia memperkirakan keberlanjutan itu akan tercapai dalam empat atau lima tahun ke depan.
Penghormatan untuk Maddy Cusack
Di akhir kesaksiannya, Bettis menyebut Cusack sebagai “orang yang luar biasa”. Ia mengatakan, “Akan selalu ada peluang baginya di pemasaran klub untuk melanjutkan kariernya setelah sepak bola.” Inkuisisi akan dilanjutkan pada Kamis waktu setempat.
Kesimpulan Sementara
Inkuisisi kematian Maddy Cusack terus menguak lapisan demi lapisan permasalahan di balik tekanan yang ia alami. Permintaan kerahasiaan kepada pendeta, beban kerja ganda, serta transisi tim wanita yang kacau menjadi sorotan utama. Sidang selanjutnya diharapkan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai apakah klub cukup proaktif dalam mendukung pemainnya.
