UEFA tuntut Infantino melalui gugatan kriminal di Swiss atas tuduhan “pengelolaan kriminal” dalam rencana penjualan pendapatan masa depan FIFA yang gagal. Langkah ini merupakan eskalasi terbaru dalam upaya UEFA untuk menyingkirkan Gianni Infantino dari kursi presiden FIFA. Pengumuman tersebut sekaligus mengejutkan banyak pihak yang sebelumnya mengira UEFA telah mundur dari perlawanan terhadap Infantino.
Kabar ini muncul hanya beberapa hari setelah UEFA mencabut rencana boikot kompetisi FIFA, yang sebelumnya diungkap oleh The Guardian. Pengumuman disampaikan di sela-sela undian Liga Champions di Monte Carlo, momen yang seharusnya menjadi perayaan besar kalender sepak bola Eropa. Alih-alih merayakan, para eksekutif federasi dan klub justru dihadapkan pada manuver hukum dramatis yang menandai babak baru pertarungan kekuasaan di FIFA.
Langkah UEFA Tuntut Infantino Lewat Jalur Kriminal
Keputusan UEFA untuk mengizinkan tim Eropa bermain di Piala Dunia Wanita U-20 bulan depan dan kualifikasi Piala Dunia Wanita senior bulan Oktober sempat dibaca sebagai tanda mundur. Namun, langkah UEFA mengambil jalur hukum justru menunjukkan sikap sebaliknya. Tekanan pada satu front dikendurkan, tetapi taruhan di front lain dinaikkan secara drastis.
Langkah pertama dalam proses hukum ini adalah mencari pembukaan dokumen di Amerika Serikat terkait proposal Fifa Forward Enterprise (FFE) yang telah ditinggalkan. Dalam dokumen setebal 56 halaman yang dikirim ke tiga pengadilan AS, UEFA menyebut proposal tersebut memiliki nilai perusahaan yang sangat rendah, hanya sekitar 20 miliar dolar AS atau setara 14,7 miliar pound sterling. UEFA menilai angka ini tidak masuk akal untuk organisasi sebesar FIFA.
Setidaknya ada tiga fakta yang menjadi sorotan utama UEFA dalam kasus ini:
- FFE merupakan proposal penjualan sebagian pendapatan masa depan FIFA kepada investor swasta yang akhirnya gagal.
- Thrive Capital milik Joshua Kushner akan membeli 21 persen pendapatan masa depan FIFA secara permanen dengan bayaran 4,2 miliar dolar AS.
- Nilai perusahaan yang ditawarkan hanya sekitar 20 miliar dolar AS, jauh di bawah perkiraan para analis.
Yang membuat nilai itu terasa janggal adalah fakta bahwa jika penjualan ini jadi berjalan, Thrive Capital akan menikmati aliran pendapatan FIFA selamanya dengan modal yang relatif kecil. UEFA menilai kesepakatan semacam itu sangat menguntungkan pembeli dan merugikan FIFA dalam jangka panjang. Karena itu, tidak heran jika UEFA kemudian bergerak cepat untuk mengusut tuntas proses valuasi yang dianggap bermasalah ini.
Kronologi Kekhawatiran UEFA atas Valuasi FFE
The Guardian mengungkap pada 6 Agustus bahwa UEFA sedang meminta penilaian independen terhadap FFE. Kekhawatiran muncul karena UEFA mencurigai Infantino berencana menjual aset paling berharga sepak bola dunia dengan harga murah. Kecurigaan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa dokumen penjualan FIFA tidak memuat informasi tentang proses valuasi atau bukti tender yang kompetitif.
Seorang sumber yang mempertanyakan valuasi FIFA mengatakan, “Kita perlu mencari tahu apakah mereka menjual Piala Dunia dengan harga obral.” Pernyataan ini menjadi cermin kekhawatiran yang berkembang di kalangan internal UEFA. Niat untuk membawa kasus ini ke ranah kriminal merupakan kelanjutan logis dari proses penyelidikan tersebut.
Kekhawatiran UEFA terbukti beralasan setelah melihat pendapatan FIFA pada siklus empat tahun yang berakhir pada Piala Dunia musim panas ini, yang mencapai 15 miliar dolar AS. Para analis pasar menilai 20 miliar dolar AS adalah valuasi yang rendah, terutama karena proposal tersebut tidak tampak menyertakan ketentuan untuk mencegah ekspansi dan penciptaan turnamen baru di masa depan. Dengan kata lain, potensi pendapatan FIFA sebenarnya jauh lebih besar daripada yang ditawarkan dalam proposal FFE.
Dugaan Keuntungan Pribadi dan Konflik Kepentingan
Kecurigaan UEFA semakin menguat setelah Kushner membeli LA Lakers bersama mantan kepala Disney, Bob Iger, seharga 12,5 miliar dolar AS. UEFA meyakini bahwa Thrive Capital mendapat perlakuan istimewa dari Infantino dalam kesepakatan FFE. Keyakinan ini diperkuat oleh dugaan bahwa Infantino tengah menyiapkan peran bergaji puluhan juta pound per tahun sebagai ketua FFE setelah mundur dari kursi presiden FIFA.
Rencana Infantino untuk menjabat hingga 2031 jika memenangkan masa jabatan terakhirnya semakin mempertegas tekadnya bertahan di kekuasaan. Ia bahkan sudah memasuki mode kampanye dengan menghadiri pertemuan Uni Sepak Bola Karibia di Republik Dominika akhir pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, Infantino tiba-tiba menyetujui sejumlah proyek pendanaan, seperti yang diungkap The Guardian.
UEFA mengambil jalur hukum setelah berkali-kali gagal meminta FIFA membuka dokumen-dokumen terkait. UEFA telah mengajukan dokumen pengadilan di New York, Florida, dan Colorado untuk mendapatkan berkas yang nantinya bisa diserahkan ke pengadilan Swiss sebagai dasar tuntutan pidana. Langkah ini menunjukkan bahwa UEFA tidak main-main dalam upayanya membawa Infantino ke meja hijau.
Perjuangan Menggalang Dukungan Menjelang Pemilihan Presiden FIFA
Selain upaya membawa Infantino ke pengadilan di negara tempatnya tinggal, UEFA juga berusaha menggalang anggota FIFA untuk mendukung upaya menyingkirkan Infantino melalui pemilihan presiden bulan Maret. Namun, sejumlah petinggi UEFA dan sekutunya di Concacaf mengakui kepada The Guardian bahwa mereka kesulitan menarik asosiasi anggota di luar Eropa untuk berpaling dari Infantino. Ini menjadi tantangan besar bagi kubu pemberontak yang ingin melihat perubahan kepemimpinan di FIFA.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah asosiasi sepak bola secara pribadi mengindikasikan bahwa mereka mungkin membutuhkan bukti aktivitas kriminal sebelum bersedia meninggalkan Infantino. Setidaknya, mereka ingin melihat bukti bahwa Infantino akan diuntungkan secara pribadi dari FFE. Tanpa bukti semacam itu, banyak anggota FIFA tampaknya masih enggan berpaling dari presidennya saat ini.
Sejarah Panjang FIFA dan Tantangan Menggulingkan Presiden
Kekhawatiran para pemberontak tentang momentum yang mandek bukan tanpa alasan. Meski FIFA suka menggambarkan dirinya sebagai organisasi demokratis dengan sistem satu anggota satu suara, kenyataannya jauh dari itu. Dalam 52 tahun terakhir, hanya ada tiga presiden tetap, dan yang terakhir meninggalkan jabatan melalui pemungutan suara adalah Sir Stanley Rous dari Inggris pada 1974.
Pengganti Rous, Joao Havelange dari Brasil, mundur setelah 24 tahun berkuasa dan kemudian terbukti menerima suap terkait penjualan hak siar oleh komite etik FIFA. Penerusnya, Sepp Blatter, juga lengser setelah memenangkan lima kali pemilihan di tengah investigasi FBI pada 2015. Investigasi tersebut telah menghasilkan lebih dari 20 vonis pidana di AS dan berpotensi bertambah.
Harapan para pemberontak bahwa otoritas Swiss akan membantu dan membawa Infantino ke pengadilan sebaiknya tidak terlalu tinggi. Otoritas Swiss memiliki sejarah panjang menutup mata terhadap korupsi FIFA. Intervensi FBI-lah yang akhirnya diperlukan untuk membongkar dan menghukum praktik korupsi tersebut, bukan tindakan dari otoritas setempat.
Penutup
Langkah UEFA membawa kasus ini ke ranah kriminal menandai babak baru dalam pertarungan kekuasaan di FIFA. Dengan bukti yang diajukan ke pengadilan AS dan rencana tuntutan di Swiss, tekanan terhadap Infantino kini berada di level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, efektivitas jalur hukum ini masih harus diuji mengingat sejarah panjang FIFA yang sulit tersentuh hukum.
Jalan menuju perubahan di FIFA masih panjang, mengingat sejarah organisasi yang tidak mudah diubah melalui jalur pemilihan. Apakah bukti kriminal akan cukup untuk menggeser Infantino, atau justru momentum perlawanan akan kembali meredup, hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, UEFA telah menaikkan taruhan ke level tertinggi dalam pertarungannya melawan presiden FIFA saat ini.
