Masalah Liverpool di musim ini ternyata belum banyak berubah. Bertandang ke St James’ Park, tim asuhan Andoni Iraola harus puas berbagi angka dengan Newcastle setelah dua kali tertinggal dan dua kali menyamakan kedudukan. Yang lebih mengkhawatirkan, pola kemasukan gol Liverpool masih sama seperti musim lalu: mudah ditembus oleh serangan balik cepat lawan.
Kabar baiknya, hasil imbang itu tetap bernilai berharga karena banyak tim besar lain yang justru tampil lebih buruk di pekan pembuka. Manchester City nyaris kalah dari Bournemouth, Aston Villa dihajar Brighton, Tottenham kalah di Brentford, dan Manchester United takluk dari Hull. Hanya Arsenal yang tampil meyakinkan, sementara Liverpool masih berkutat dengan persoalan yang sama.
Pekan Pembuka: Stabilitas Jadi Pembeda Utama
Tiga hari pertama musim baru kembali membuktikan satu hal: stabilitas adalah barang mahal. Hanya Arsenal yang tampil meyakinkan di akhir pekan itu, sementara tim-tim lain dengan ambisi gelar masih terlihat belum matang. Berikut ringkasan performa tim-tim besar yang kesulitan di pekan pembuka:
- Manchester City menang atas Bournemouth, tetapi dengan permainan buruk dan sedikit keberuntungan.
- Aston Villa dihajar habis oleh Brighton setelah banyak berubah di tubuh pemain dan staf pelatih.
- Tottenham kembali tampil suram dan kalah dari Brentford di tengah proses perombakan besar-besaran.
- Manchester United kalah dari Hull dengan performa yang sangat mirip dengan United satu dekade terakhir.
Dari hasil-hasil ini, satu pola terlihat jelas: tim yang mempertahankan inti skuadnya cenderung lebih siap, sementara tim yang banyak berubah kesulitan menemukan ritme. Manchester City, di bawah kepemimpinan manajer baru, adalah contoh paling jelas dari ketidaksiapan itu. Liverpool pun nyaris merasakan hal yang sama sebelum akhirnya memaksakan hasil imbang di Newcastle.
Liverpool Kembali Rentan terhadap Serangan Balik
Sepanjang 96 menit pertama laga di St James’ Park, Liverpool tampak seperti akan masuk daftar tim yang kesulitan keluar dari gejolak musim panas. Dua gol yang mereka kebobolan berasal dari pola yang persis sama dengan musim lalu: lawan berlari kencang menembus ruang kosong. Anthony Elanga membawa Newcastle unggul lebih dulu, kemudian Joe Willock mengembalikan keunggulan Newcastle setelah Liverpool sempat menyamakan kedudukan.
Andoni Iraola mengakui bahwa kedua gol tersebut terjadi dalam situasi transisi. “Bukan berarti mereka mengejutkan kami. Kami seharusnya berebut bola pertama dan mungkin melakukan pelanggaran, harus sedikit lebih agresif terhadap pemain yang membawa bola,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa timnya sudah berlatih menghadapi transisi, tetapi Newcastle memang tim yang sangat piawai dalam situasi semacam itu.
Menariknya, keluhan ini bukan hal baru. Arne Slot, manajer Liverpool musim lalu, sering menyoroti bagaimana lawan selalu mencetak gol dari peluang pertama dan ketidakmampuan timnya menghadapi serangan langsung. Ketika Elanga mencetak gol pembuka, terasa jelas bahwa belum banyak yang berubah sejak saat itu.
