Kesaksian Ibu Deborah di Sidang Kematian Maddy Cusack
Sidang kematian pesepakbola wanita Maddy Cusack terus menyita perhatian publik. Pada hari Kamis, ibu Maddy, Deborah Cusack, memberikan kesaksian yang emosional di pengadilan koroner Chesterfield. Ia menuding pelatih Jonathan Morgan sebagai penyebab utama kondisi mental anaknya yang memburuk, sekaligus mengkritik sistem pelaporan di sepak bola wanita yang dinilainya terlalu sulit diakses.
Menurut Deborah, Maddy akan tetap hidup jika Morgan tidak diangkat sebagai manajer Sheffield United pada Februari 2023. Ia menggambarkan putrinya sebagai sosok yang ceria dan bersinar sebelum kedatangan Morgan.
Tudingan Langsung ke Jonathan Morgan
Deborah Cusack mengatakan bahwa Morgan membuat Maddy merasa “seolah-olah harus berhenti dari sepak bola.” Dalam kesaksiannya, ia menyebut Morgan sering memberikan komentar merendahkan, seperti menyebut Maddy “bottom-heavy” (berbadan besar bagian bawah) yang menurut Deborah sangat mempermalukan putrinya. Morgan membela diri dengan mengatakan itu hanya soal otot dan latihan kekuatan.
Deborah juga menyoroti insiden ketika Morgan memanggil pasangan Maddy, Grace Riglar, dengan sebutan “Mrs Cusack” di depan tim. Maddy merasa “dipermalukan luar biasa”. Dengan nada marah, Deborah bertanya kepada Morgan: “Siapa kamu yang memberi aturan, padahal kamu sendiri menjalin hubungan dengan seorang pemain?”
Meskipun Deborah mengakui, “Saya tidak menyalahkan Anda atas apa yang persis ia lakukan,” ia tetap menegaskan: “Tapi Anda membuatnya merasakan apa yang ia rasakan. Pukulan kecil yang terus-menerus. Anda merendahkannya. Jika Anda tidak dipekerjakan, putri saya masih hidup hari ini.”
Kondisi Mental Maddy Sebelum dan Sesudah Morgan
Menurut Deborah, Maddy tidak pernah memiliki masalah kesehatan mental sebelumnya. Semua berubah setelah Morgan menjabat. Maddy sempat meminta rujukan konselor ke dokter klub, Dr Subhashis Basu, dua minggu sebelum kematiannya. Namun Dr Basu saat itu menyarankan untuk menunda. Dr Basu kemudian membantah ingatan itu, mengklaim ia menawarkan bantuan melalui Sporting Chance.
Kritik Pedas terhadap PFA dan FA
Deborah Cusack melontarkan kritik tajam kepada Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA) dan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA). Ia kecewa karena PFA tidak pernah memeriksa keadaan Maddy meskipun ia adalah anggota. Padahal ada pemain lain yang juga mengajukan keluhan selama Maddy di Sheffield United.
“PFA seharusnya mengecek anggota lain di klub itu. Mungkin mereka perlu lebih peka terhadap perbedaan antara sepak bola pria dan wanita,” ujar Deborah. Ia juga menyinggung saluran pengaduan rahasia FA, Integrity phone line, yang menurutnya tidak akan dihubungi oleh pesepakbola wanita karena takut masuk daftar hitam atau dicap pembuat masalah.
“Maddy merasa tidak bisa bicara dengan pimpinan Sheffield. Itu benar-benar harus berubah,” tegasnya.
Hilangnya Data Medis dalam Skala Besar
Salah satu temuan penting dalam sidang adalah hilangnya data medis sensitif para pemain secara massal. Dr Subhashis Basu, dokter klub saat itu, mengakui bahwa ia gagal melaporkan kebocoran data tersebut dengan benar. Catatan medis Maddy untuk periode krusial juga tidak dapat ditemukan, sehingga memperumit upaya keluarga untuk mengklarifikasi alasan Maddy dicadangkan oleh Morgan saat pertandingan pertamanya.
Dr Basu menjelaskan bahwa masalah terjadi saat peralihan sistem pencatatan dari Kitman Labs ke WPS pada musim panas 2023. Ia mengaku sudah beberapa kali menghubungi penyedia sistem, tetapi tidak melaporkan kebocoran ini ke klub hingga setelah kematian Maddy. Ia juga tidak memberi tahu Komisioner Informasi, maupun menyebutnya dalam investigasi internal klub atau FA. Koroner menyatakan keprihatinan bahwa data medis pemain lain mungkin masih hilang.
Permintaan Otak untuk Penelitian dan Kesalahan Komunikasi
Sehari setelah Maddy meninggal, Dr Basu menghubungi keluarga dan meminta izin agar otak Maddy digunakan untuk penelitian mengenai dampak sundulan bola. Permintaan itu, yang ia katakan atas nama kepala kesehatan otak PFA, ditolak oleh keluarga. Ayah Maddy, David Cusack, sebelumnya bersaksi bahwa Dr Basu mengaku telah berbicara dengan Maddy lima hari sebelum kematiannya. Namun pada sidang Kamis, Dr Basu membantah dan menyebut itu kesalahpahaman. “Jika saya benar-benar bicara dengannya dan ia dalam kondisi seperti itu, saya pasti akan membantunya. Saya minta maaf jika kontribusi saya pada kesalahpahaman ini,” ujarnya.
Kesimpulan: Perlunya Perubahan Sistemik di Sepak Bola Wanita
Sidang kematian Maddy Cusack masih akan berlanjut pada hari Jumat. Kesaksian ibunya membuka tabir gelap tekanan yang dihadapi pesepakbola wanita, mulai dari perlakuan atasan, kurangnya dukungan dari organisasi, hingga lemahnya sistem pencatatan data medis. Keluarga berharap kasus ini mendorong perubahan nyata agar tidak ada lagi pemain yang merasa tidak bisa bersuara atau terancam masuk daftar hitam.
Bagi Anda yang mengalami situasi serupa, tersedia layanan dukungan. Di Indonesia, hubungi hotline pencegahan bunuh diri di 021-123-4567 (contoh). Atau hubungi organisasi internasional seperti Samaritans (116 123 di Inggris), National Suicide Prevention Lifeline (988 di AS), atau Lifeline (13 11 14 di Australia).
